Karhutla Indonesia kembali menjadi perhatian wisatawan pada musim kemarau 2026. Bagi Anda yang berencana bepergian, isu utamanya bukan sekadar apakah sebuah destinasi tetap buka, tetapi bagaimana asap, kualitas udara, jarak pandang, dan perubahan cuaca dapat memengaruhi perjalanan. Berdasarkan pembaruan resmi hingga akhir September 2026, kondisi tidak seragam di seluruh Indonesia. Karena itu, keputusan perjalanan perlu dibuat berdasarkan lokasi dan tanggal keberangkatan, bukan dari kabar umum saja.
Bagaimana situasi karhutla Indonesia saat ini?
BMKG menyebut September 2026 sebagai fase kritis kebakaran hutan dan lahan. Cuaca kering, pengaruh El Nino, dan tingginya titik panas menjadi faktor yang meningkatkan risiko. Wilayah yang mendapat perhatian utama meliputi Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. BMKG juga memprediksi pengaruh El Nino dapat bertahan hingga awal 2027, sehingga periode kering perlu dipantau lebih lanjut.
Dalam pembaruan cuaca 21 September 2026, BMKG mencatat konsentrasi titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Perlu dipahami bahwa hotspot adalah indikasi panas yang terdeteksi satelit, bukan penghitungan langsung jumlah kebakaran atau luas area terbakar. Data ini tetap penting sebagai sinyal awal, tetapi harus dibaca bersama informasi kualitas udara dan laporan pemerintah daerah.
BNPB melaporkan bahwa per 28 September 2026, luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas mencapai 527,6 hektare. Sebanyak 431,53 hektare telah ditangani melalui operasi darat dan udara, sedangkan 96,07 hektare masih belum padam. Penanganan menghadapi tantangan berupa lahan gambut, angin, akses menuju lokasi, sumber air, dan kabut asap yang dapat mengurangi jarak pandang.
Apakah asap karhutla mengganggu perjalanan?
Dampaknya sangat bergantung pada lokasi, arah angin, dan konsentrasi partikulat di hari perjalanan. Asap dapat menurunkan kualitas udara, mengurangi jarak pandang, dan membuat aktivitas luar ruangan terasa lebih berat. Dalam kondisi tertentu, jarak pandang juga dapat memengaruhi operasional penerbangan, transportasi darat, dan kegiatan wisata alam. Namun, adanya karhutla di satu provinsi tidak otomatis berarti seluruh Indonesia mengalami gangguan yang sama.
Dampaknya juga dapat meluas ke negara sekitar. ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) melaporkan bahwa pada Agustus 2026, asap lintas batas terpantau menutupi sebagian Kalimantan, Brunei, Sarawak, Sabah, Semenanjung Malaysia, dan wilayah timur Jawa. Ini berarti wisatawan yang bepergian ke Malaysia, Singapura, atau Brunei juga perlu memantau informasi kabut asap regional, terutama saat angin muson membawa asap dari wilayah sumber.
Untuk Singapura, Meteorological Service Singapore memprediksi risiko El Nino, cuaca lebih panas dan kering, serta potensi kabut asap lintas batas pada periode Juni–Oktober 2026. NEA menyarankan masyarakat menggunakan data PM2.5 satu jam untuk aktivitas dalam beberapa jam ke depan dan PSI 24 jam untuk merencanakan kegiatan pada hari berikutnya.
Tips aman traveling saat ada karhutla
1. Cek data lokal sebelum berangkat
Periksa pembaruan BMKG, kualitas udara daerah tujuan, informasi BNPB atau BPBD, serta pemberitahuan bandara dan maskapai. Lakukan pengecekan kembali 24 jam dan beberapa jam sebelum keberangkatan karena arah asap dan cuaca dapat berubah.
2. Siapkan rencana yang fleksibel
Hindari jadwal yang terlalu padat, terutama jika perjalanan melibatkan penerbangan sambungan atau aktivitas luar ruangan. Sediakan waktu cadangan apabila terjadi keterlambatan, perubahan jadwal, atau penutupan sementara kawasan wisata.
3. Kurangi aktivitas luar ruang ketika udara memburuk
Jika indeks kualitas udara menunjukkan kondisi tidak sehat, kurangi olahraga, trekking, dan kunjungan panjang di ruang terbuka. Pindahkan agenda ke museum, pusat belanja, restoran, atau aktivitas dalam ruangan yang tetap aman dan nyaman.
4. Bawa masker yang sesuai
Masker respirator seperti N95 atau KN95 dapat membantu mengurangi paparan partikel ketika digunakan dengan benar. Masker bukan pengganti informasi kualitas udara dan tidak membuat semua aktivitas luar ruang otomatis aman. Wisatawan dengan asma, penyakit jantung, atau gangguan pernapasan sebaiknya membawa obat rutin dan berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum bepergian.
5. Pantau kondisi penerbangan dan kesehatan
Asap, cuaca, dan jarak pandang dapat berubah cepat. Simpan kontak maskapai, asuransi perjalanan, hotel, dan layanan darurat setempat. Jika mengalami sesak napas, nyeri dada, pusing berat, atau gejala yang memburuk, hentikan aktivitas dan cari bantuan medis.
Haruskah perjalanan dibatalkan?
Tidak ada jawaban yang berlaku untuk semua rute. Perjalanan perlu ditunda atau diubah jika otoritas setempat mengeluarkan peringatan, kualitas udara berada pada tingkat berbahaya, penerbangan terdampak, atau Anda termasuk kelompok yang rentan. Jika kondisi masih terkendali, perjalanan dapat dilanjutkan dengan itinerary fleksibel dan pemantauan rutin.
Karhutla Indonesia adalah situasi yang berkembang, bukan kondisi yang bisa dinilai hanya dari satu berita atau satu peta hotspot. Gunakan sumber resmi, cek kota tujuan secara spesifik, dan prioritaskan kesehatan dibandingkan memaksakan itinerary. Untuk pembaruan terbaru, pantau BMKG, BNPB, pemerintah daerah, bandara, maskapai, serta ASMC untuk kondisi regional.